Hujan deras disertai petir kerap
terjadi di sejumlah daerah akhir-akhir ini. Gejala alam tersebut muncul karena
ada perbedaan potensial antara awan dan bumi atau dengan awan lainnya.
Di Indonesia, mitos memainkan
ponsel saat terjadi petir seringkali terdengar. Dilansir dari berbagai sumber,
beberapa orang berspekulasi ketika menggunakan ponsel saat di luar rumah, petir
akan tertarik pada logam. Seperti diketahui, handset ponsel memang mengandung
jumlah logam yang tidak signifikan. Ponsel adalah perangkat berdaya rendah dan
tidak memiliki karakteristik yang membuat mereka menarik perhatian petir.
"Ponsel, barang logam kecil,
perhiasan, dan lain-lain tidak menarik petir. Tidak ada yang menarik petir.
Petir cenderung menyerang benda-benda yang lebih tinggi," kata John
Jensenius, ahli petir Petugas Cuaca Nasional NOAA. Jhon menyatakan bahwa
orang-orang hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Tempat itu termasuk di dataran
tinggi.
Waktu yang salah adalah kapan saja terjadi badai petir. "Tidak ada
bahaya petir yang melekat pada telefon seluler. Meskipun banyak laporan tentang
kecelakaan petir melibatkan orang-orang yang menggunakan telefon seluler,
laporan ini mewakili penggunaan ponsel di mana-mana dan ketidakteraturan
pengguna mereka terhadap kondisi cuaca dan tidak ada hubungannya dengan telefon
itu sendiri," ujar Dr. Mary Ann Cooper, Profesor Associate, Departemen
Pengobatan Darurat dan Bioengineering, University of Illinois di Chicago, dalam
makalahnya mengenai fakta-fakta kilat.
Sebelumnya diberitakan, serangan
petir telah menelan tiga korban meninggal dunia saat mendaki Gunung Prau, Desa
Patak Banteng pada Minggu atau 23 April 2017.
Saat sedang berteduh karena
hujan, salah satu pendaki dari 11 orang sedang memainkan ponsel, tak lama
kemudian petir langsung menyambar rombongan para pendaki yang berasal dari
Jakarta tersebut.

Comments
Post a Comment